Apakah Ada yang Salah Dengan Ayah??

March 31, 2010 at 09:27 7 comments

Dr. Arun Gandhi cucu dari mendiang Mahatma Gandhi pernah menceritakan satu kisah dalam hidupnya yang sungguh mengesankan, sebagai berikut :Kala itu usia saya kira-kira masih 16 tahun dan saya tinggal bersama kedua orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, Mahatma Gandhi.

Kami tinggal disebuah perkebunan tebu kira-kira 18 mil jauhnya dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah kami jauh di pelosok desa terpencil sehingga hampir tidak memiliki tetangga. Oleh karena itu saya dan kedua saudara perempuan saya sangat senang sekali bila ada kesempatan untuk bisa pergi ke pusat kota, untuk sekedar mengunjungi rekan atau terkadang menonton film dibioskop.

Pada suatu hari kebetulan ayah meminta saya menemani beliau ke kota untuk menghadiri suatu konferensi selama seharian penuh. Bukan main girangnya saya saat itu. Karena ibu tahu kami hendak ke kota maka ibu menitipkan daftar panjang belajaan yang ia butuhkan, disamping itu ayah juga memberikan beberapa tugas kepada saya, termasuk salah
satunya adalah memperbaiki mobil dibengkel.

Pagi itu setelah kami tiba ditempat konferensi; ayah berkata kepada saya; ” Arun; jemput ayah disini ya, nanti jam 5 sore….dan kita akan pulang bersama-sama”. Baik ayah, saya akan berada disini tepat jam 5 sore. Jawab saya dengan penuh keyakinan.

Setelah itu saya segera meluncur untuk menyelesaikan tugas yang dititipkan ayah dan ibu kepada saya satu persatu. Sampai akhirnya hanya tinggal satu pekerjaan yang tersisa yakni menunggu mobil selesai dari bengkel. Sambil menunggu mobil diperbaiki tidak ada salahnya aku pikir untuk mengisi waktu senggangku dengan pergi ke bioskop menonton
sebuah film.

Saking asyiknya nonton ternyata saat saya melihat jam; waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, sementara saya janji menjemput ayah pukul 17.00. Segera saja saya melompat dan buru-buru menuju bengkel untuk mengambil mobil, dan segera menjemput ayah yang sudah hampir satu jam menunggu. Saat saya tiba sudah hampir pukul 18.00
sore.

Dengan gelisah ayah bertanya pada saya; ” Arun! kenapa kamu terlambat menjemput ayah…?” Saat itu saya merasa bersalah dan sangat malu untuk mengakui bahwa saya tadi keasyikan nonton film, sehingga saya terpaksa berbohong dengan mengatakan; ”Maaf Ayah, tadi mobilnya belum selesai di perbaiki sehingga Arun harus menunggu.”

Ternyata tanpa sepengathuan saya , ayah sudah terlebih dahulu menelpon bengkel mobil tersebut, sehingga ayah tahu jika saya berbohong; lalu wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap saya ayah berkata; ”Arun sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah, untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenungkan dimana letak kesalahannya.”  Lalu dengan tetap masih berpakaian lengkap ayah mulai berjalan kaki menuju jalan pulang kerumah.

Padahal hari sudah mulai gelap dan jalanan semakin tidak rata. Saya tidak sampai hati meninggalkan ayah
sendirian seperti itu; meskipun ayah telah ditawari naik, beliau tetap berkeras untuk terus berjalan kaki, akhirnya saya mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, dan tak terasa air mata saya menitik melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan.

Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun.

Sering sekali saya mengenang kejadian itu dan merasa begitu terkesan; seandainya saja saat itu ayah menghukum saya sebagai mana pada umumnya orang tua menghukum anaknya yang berbuat salah; kemungkinan saya akan
menderita atas hukuman itu; dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya. Tapi dengan satu tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah; meskipun tanpa kekerasan justru telah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk bisa mengubah diri saya sepenuhnya.

Saya selalu mengingat kejadian itu seolah-olah seperti baru terjadi kemarin.

Para orang tua, ayah Dr Arun Gandi tersebut sungguh seorang ayah dan guru yang luar biasa dalam mendidik anaknya. Sebuah kisah emas untuk para orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Kisah ini begitu menginspirasi saya secara pribadi; untuk selalu mengevaluasi diri manakala anak-anak tercinta saya mulai menunjukkan prilaku yang kurang terpuji ya, saya membiasakan diri untuk selalu bertanya :

Apa yang salah dari saya? mengapa anak saya bisa seperti itu…..????

Sering, kalau anak kita berbuat salah, kita hanya menghukum mereka dan tidak membuat mereka menyesali perbuatan salah mereka …

-dikutip dari morning coffee, sebuah sharing harian :)-

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Emah My exercise update

7 Comments Add your own

  • 1. limmy mama radhika dan rania  |  March 31, 2010 at 12:08

    artikel yg bagus sekali la.
    kadang gue juga suka merasa bersalah dan mengintropeksi diri sendiri kalo dhika berbuat sesuatu yg bikin gue marah.

    anak2 kan ibarat kertas putih.
    mereka belajar segala sesuatu dari apa yg diliat dan didenger dr sekitarnya..termasuk kita orang tuanya.

    Reply
    • 2. natali  |  March 31, 2010 at 16:57

      thx for sharing Peb…

      iya yah, mendidik anak emang gak mudah, gua juga masi suka keder pisan nih…:(
      kalo anak salah, jadi mikir, ini anaknya yg badung apa guanya sih yang gak bisa ngajar….
      huaaa susahnyaaa…..

      Reply
      • 3. luvly7  |  April 1, 2010 at 02:59

        hehehhehe … itulah serunya jadi parent Nat 😉

    • 4. luvly7  |  April 1, 2010 at 02:59

      Waaah … elu bagus banget Lim!!

      Gue malah sebelum baca sharing ini, kalo anak2 salah suka maen cubit aja tanpa mikir kalo mereka salah karena gue yang belum pintar mengajar mereka 😦

      Reply
  • 5. susie  |  March 31, 2010 at 18:08

    Tfs Fab , bener2 artikel yang bagus nih , mendidik anak memang bukan perkara mudah ya , soalnya gak ada buku panduan utk itu , kita para ortu hanya bisa mengandalkan kata hati dan meraba-raba mana yg baik , benar ataupun salah dalam mendidik anak2 kita , tp yg jelas kita semua sebagai ortu selalu ingin yg terbaik buat anak2nya .. aduh tadi lama bener berpikir sebelum ahkirnya meninggalkan comment ini … susah bener nih maksa kita2 yg baca berpikir berat 🙂

    Reply
    • 6. luvly7  |  April 1, 2010 at 03:00

      Hahhahaha … gue juga jarang2 mo baca tulisan berat koq Sus … cuman, baca yang diates itu bikin cara berpikir gue jadi berubah!!!

      Reply
  • 7. lovefaithhope2811  |  April 1, 2010 at 04:10

    Duh, hebat bener tuh papinya dr. Arun…
    Gak gampang melihat suatu kegagalan sbg akibat dari kesalahan sendiri. Biasanya kita nyari2 kesalahan org lain ato kondisi.

    Thx buat sharingnya, Feb..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Luvly7 ….

Cewek Keren Sedunia is her middle name ... Love travelling ,make friends, watch movie and sleep! Really wanna be slim without stop eating :) Be a famous TV presenter & MC is one of her biggest dream, and hopefully she still can reach it !!! You go girl !!

Oldies

Visitors

  • 442,971 clicks

RSS Blogger’s update

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Recent Posts


%d bloggers like this: