DSA = bertangan dingin vs mata duitan

October 18, 2011 at 00:46 22 comments

DSA? Yep, stands for Dokter Specialist Anak, or dokter anak. Jaman sekarang, kalau sudah punya anak, yaa biasanya juga kudu punya dokter specialist anak. Keperluannya, mulai untuk urusan imunisasi, sekedar kontrol, atau untuk mengobati anak yang belakangan emang suka kena penyakit yang dulu jarang ada. Mulai dari sakit flu Singapore, biarpun anak belum pernah travelling ke Singapore, sampai ke penyakit akibat virus lainnya, yang belakangan memang bertambah jenisnya.

Saya sendiri, sejak Tim bayi, kira2 sudah berganti DSA sebanyak 6-9 kali. Dokter bayi yang memegang Tim dari waktu baru lahir dulu, adalah seorang dokter yang jauh dari type dokter anak ideal saya. Bertanya sekedarnya, tidak simpatik, dan tangannya berbau rokok … iih!! Cukup sekali ketemu dokter model begini mah!!

Setelah keluar dari RS tempat dia dilahirkan, Tim kemudian dipegang oleh salah seorang dokter perempuan di RS. Siloam Karawaci. Dokternya setengah baya, terlihat agak judes, tapi ya lumayan cocok, walaupun antriannya panjang minta ampun.

Pencarian dokter berikutnya, dimulai ketika kami pindah rumah, dari Tangerang ke Utara Jakarta. Mulailah mencoba satu persatu dokter di RS. Hermina Sunter. Dari dokter A. yang antriannya minta ampun panjangnya, padahal dokter tersebut terlihat biasa-biasa saja, tetapi mungkin bertangan dingin untuk beberapa pasiennya. Ketika dokter A tidak praktek, saya mencoba seorang dokter berwajah dan bernama India. Dokter tersebut sempat memegang Tim 2-3 kali.

Kemudian saya mencoba seorang dokter perempuan, yang bahkan namanya saja saya tidak ingat. Sempat juga, mencoba seorang dokter anak di RS. Mitra Kelapa Gading. Dokter yang berpenampilan bapak-bapak, yang maaf terlihat agak ‘lebay’ ini juga tidak lama menjadi dokter anak pegangan kami. Sepertinya, si dokter kurang bertangan dingin dalam menyembuhkan penyakit anak2. Lagian, koq saya gag berasa comfort yaaa bertanya ini itu ke si dokter?

Akhirnya, berkat info dari mulut ke mulut, saya mengenal seorang dokter yang dulu buka praktek di rumahnya mulai jam 6 pagi. Waah, buat ibu2 yang juga orang kantoran, praktek pagi buta seperti ini sepertinya sangat membantu. Ibu2 bisa mengantar anaknya ke dokter, untuk imunisasi atau berobat di pagi hari, sebelum kemudian berangkat ngantor.

Pertama kali bertemu dengan si dokter, saya sudah merasa sreg. Dokter laki2 yang berpenampilan sederhana, praktek di rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kelapa gading, dan terlihat tidak mata duitan. Saya langsung cocok dengan si dokter ini.

Dokter ini kemudian menjadi DSA untuk Tim & Nick. Setelah sekian lama praktek di klinik & di rumah, akhirnya dokter ini membuka praktek sendiri di klinik pribadinya. Klinik yang kemudian pernah menjadi klinik anak andalan saya dan teman-teman. Klinik yang hampir tidak pernah sepi dengan pasien, baik siang maupun malam. Ada beberapa dokter yang juga akhirnya membantu si dokter, praktek bersama di kliniknya.

Klinik standard untuk anak2, dilengkapi dengan taman bermain mini, apotik dan juga prosedur antrian yang termanage dengan baik. Didalam ruangan praktek, seperti di tempat praktek DSA pada umumnya, dilengkapi dengan mainan berwarna-warni, boneka yang digantung, yang bisa mengalihkan perhatian anak-anak dari jarum yang akan disuntikkan ke mereka. Biaya konsultasi dokter anak disini, bervariasi. Tetapi pada umumnya, hampir seperti biaya konsultasi di Rumah Sakit besar.

Saya bukan typical emak-emak yang suka berkunjung ke dokter anak. Dalam artian, kalau cuma batuk-pilek sedikit, biasanya saya biarkan anak2 istirahat tanpa memberi mereka obat. Kalau panas, cukup diberi tempra atau panadol anak. Kalau diare, biasa diberi obat tradisional, kecuali kalau diare parah. Selebihnya, saya cuma ke dokter untuk melengkapi imunisasi anak2 (itupun sepertinya cuma imunisasi anak pertama yang lengkap total … anak kedua, banyak bolongnya, huaaaa)

Dan thanks God, Tim & Nick termasuk anak-anak yang cukup sehat. Jarang sekali sakit, dan jarang sekali butuh DSA. Tim jago makan, kalo sakit paling batuk pilek. Sesekali panas, tapi trus besoknya sembuh.

Nick yang agak rentan. Bodinya kurus kerempeng, berbanding terbalik sama kakaknya *dan mamaknya* … Makannya susaaaah, pemilih abis! Di usia 5,5 tahun, beratnya baru 18 kg-an😦

Nah, belakangan Nick punya penyakit musiman. Penyakit ‘mabuk darat’ alias eneg dan muntah kalau naik mobil dengan perjalanan yang lumayan lama. 2 bulan belakangan, penyakit eneg-nya muncul bukan cuma kalo naik mobil😦 Akhir Agustus lalu, Nick muntah-muntah parah. Seharian muntah lebih dari 15 kali. Isi muntahnya, sampai cuma air dan buih, karena memang tidak ada makanan yang masuk. Seharian lemas dan pucat, tangannya dingin :(  Waktu itu, Nick dibawa ke UGD, karena hari libur dokter tidak praktek. Hampir dirawat, tapi kemudian Nick berhenti muntah setelah menelan vometa. 30 menit setelah pulang dari UGD, Nick kembali muntah 2x😦 mamak Nick yang khawatir, udah mau memapah Nick ke RS, bair bisa di infus. Kasian kaaan, udah kurus, muntah-muntah pulak :(  Tapi trus si emak alias mamie ogut bilang biar Nick istirahat dulu aja, biar bobok, siapa tau besoknya baikan. Dan benar, besok paginya, he just fine🙂 Thanks God!

Dan karena penyakit yang sama kembali berulang beberapa hari yang lalu, mamak Nick memutuskan untuk bertemu dengan dokter Luszy di klinik dokter langganan tadi. Kenapa koq dokter Luzsy dan bukan dokter langganan? Karena kalau mau daftar ke dokter langganan, kudu tunggu sampai jam 10 malam baru dipanggil :(  Pikir2, dokter Luzsy juga lumayan baik, dan cocok buat menangani anak2. Lagian, emang sebenernya dokter yang ogut tuju yaa dokter Luzsy tadi, berhubung doi praktek sore-malamnya di klinik tersebut, jadilah terpaksa kesana.

Mengingat mamak2 satu ini malas dan gag punya waktu buat ke dokter anak sering-sering, sekalian deh si Tim diangkut, buat melengkapi imunisasi yang masih bolong. Biar gag rugi, sekali ngetrip kesana, sekalian bawa 2 bocah. Sekalian daptar, sekalian nganter.

Nick lalu diberi obat lewat panta* dan diberi beberapa obat puyer + vitamin. Tim dikasi imunisasi Varisela dan influenza, masing2 di lengan kiri dan kanan.

Pas bayar … nah, ini dia sebenernya yang bikin ogut pengen nulis soal DSA ini …

Total bill buat Nick adalah 400 sekian, dan buat Tim 700 sekian. Untuk Tim, 2x suntikan imunisasi, dihitung dengan biaya kontrol dokter 1x + 1/2 x. Katanya, untuk imunisasi ke-2, biaya konsultasinya di disc. 50%. What???? Langsung saya nyeletuk :

“Besok, besok, kalau anaknya sakit batuk, pilek, panas, diare, bakalan dihitung 4x biaya konsultasi dong mbak???”

Biaya konsultasi, mau berapa juga, sebenernya gag masalah buat ogut. Wong tinggal reimburse ke kantor koq! Cuman, ogut bingung aja, apa segitu-gitunya itu pemilik klinik butuh uang, sampe-sampe harus mencharge biaya konsultasi dokter lebih dari 1x ? Padahal, biaya kontrol yang hampir 200 ribu itu sudah lumayan tinggi kan? Belum lagi dari potongan tarif dokter2 rekanan yang praktek bersama di klinik beliau … Belum lagi dari obat yang biasanya juga kita beli dari apotik di lantai bawah, *yang saya duga, pastinya dimiliki oleh pemilik yang sama juga* … Dengan pasien yang banyaknya sejibun-jibun, masih perlu memakan uang pasien dengan cara seperti itukah?? ck ck ck …

Sekalian saya cerita … (menurut teman-teman saya, beberapa ibu yang kebetulan juga used to mempercayakan anak mereka kepada si dokter sederhana bertangan dingin itu), sekarang *dari dulu juga sih* beliau selalu kebanjiran pasien. Itu juga mungkin yang membuat beliau sekarang terlihat agak cuek, jarang mau berlama-lama menangani pasien, terkesan jutek dan kurang perhatian terhadap pasien-pasien kecilnya. Pastinya, si dokter lelah, kewalahan dengan banyaknya pasien yang ditanganinya. Pastinya juga, motto ‘time is money’ sudah berlaku seiring dengan ketenaran si dokter bertangan dingin.

Well … pemilihan DSA biasanya juga didasarkan atas cocok atau tidaknya si dokter di hati orangtua si anak. Kalau orangtua merasa percaya, dekat dan suka pada si dokter, semua penyakit dan masalah anak akan dipercayakan pada si dokter. Demikian juga sebaliknya.

Hopefully, dokter rendah hati dan bertangan dingin itu, akan tetap down to earth, walaupun kliniknya semakin bertambah besar dan pasiennya bertambah banyak. Semoga DSA-DSA lain yang belum seterkenal dia, bisa tetap down to earth, walaupun nantinya menjadi DSA ternama …

Wish ya all the best dok!

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Universal Studio Singapore & Sin trip 2011 I will worship You forever!!

22 Comments Add your own

  • 1. Arman  |  October 18, 2011 at 01:01

    huahahaha parah abis.. masa anak imunisasi 2 kali diitung kontrol dokternya lebih dari sekali sih, gak masuk akal banget…😛

    kita di jakarta dulu cocok ama dr lineus hewis di JWCC. jauh banget emang dari rumah kita, tapi karena cocok ya kita selalu bawa andrew kesana.
    imunisasi nya juga selalu sekalian lebih dari 1 kalo emang pas jadwalnya, tapi ya bayar dokternya 1 aja dong. gak bayarnya tergantung jumlah imunisasinya.

    hehehe kaco bener itu kliniknya ya feb…😛

    Reply
    • 2. luvly7  |  October 19, 2011 at 09:09

      Makanya Man, … seumur2 ke dokter anak, dari RS ke RS, baru tau kalo ada biaya konsul yang bisa di charge 2 kali gitu … hebat yaa tuh klinik … gag tau, dapet ilmu penambah pundi darimana :p

      Reply
  • 3. celline  |  October 18, 2011 at 02:31

    hahaha, gue ud lama ng ke DSA itu by, semenjak dia punya klinik sendiri kok rada beda… lagian Sarah cocok ama Luzy dan akhirnya Luzy jd dr langganan kel gue.. dr Sarah sampe keponakan2… kmrn smpt bawa sarah ke dr umum yg rame ama anak2 juga.. lumayan sih.. jd kl pilek2 dikit kayanya aku ke dr umum itu aja d…

    Reply
    • 4. luvly7  |  October 19, 2011 at 09:11

      Bener San … people change … dokter juga bisa berubah, terutama kalo tambah ngetop dan tambah banyak pasiennya😦 Gue juga sekarang pake Luzsy koq … anak2 mayan cocok + antrinya gag gila2an … moga2 dokter Luzsy bisa tetep stay the same dan down to earth yaa …

      Reply
  • 5. Nilola24 (Tia)  |  October 18, 2011 at 02:31

    Hi Febi..salam kenal ya.

    Pas baca postingan ini serasa ngeluarin isi hati gue juga. Gue juga selalu ke dokter di klinik ini setelah sekian lama nyari sejuta dokter yg pas. Meskipun ini juga ga pas, tp karena rmh gue deket banget, akhirnya milih disini. Apalagi administrasi dan catatan riwayat pasien yg bisa gue simpen, dicetak rapi. Ga seperti di RS H****A yg coret2 cakar ayam tulisan tangan dokter, yg cuma dokter aja yg bisa baca.

    Tapi..gue ga sreg sama dokter H yang ruame itu. Setiap konsultasi, pengen rasanya gue cabut kabel komputernya, biar dia bisa gue ajak ngomong dulu. Ga ditanya sakit apa, ga dijawab. Duhhh..bayar mahal2 kok hati ga puas bener. Mana katanya sekrg di tempat yg baru ada sistem pasien vip. Yg berani bayar vip, ga pake antri. Bayangin kalo rata2 pasien, diganti kantor full semua pengobatan, pasti milih yg ini kan. Gimana nasib yg ga diganti kantor, tp anaknya mendesak buat diperiksa dokter. Kasian banget. Serasa nyawa anak ga ada artinya tanpa uang banyak.

    Terakhir gue pernah ke dokter suziana. Elu boleh coba deh. Lumayan komunikatif. So far yang plg komunikatif dia disana. Ga gue tanya2, dia jelasin lgs.

    Semoga kita bisa nemuin dokter idaman ya🙂

    Reply
    • 6. luvly7  |  October 19, 2011 at 09:14

      Hahahhaha … hai Tiaaa … salam kenal dan keknya kita kudu toss dulu :p

      hfff … sempet mikir2 waktu mo komplen dengan nulis postingan ini, takutnya diprotes orang, takutnya emang dimana2 begitu cara penghitungan pembayaran biaya konsultasi dokternya … thanks God, pas akhirnya gue jadi curhat di blog ini, banyak mommies yang berpihak padakuh … hahahhahaha

      Sekarang udah pake dokter Luzsy aja deh … kalo bisa jegat si dokter di RS. Gading Pluit, instead of di klinik itu, biar gag dapet charge ajaib lagi dari kliniknya🙂

      yang sabar yaaa momz🙂

      Reply
  • 7. babyclo  |  October 18, 2011 at 04:53

    Wah baru denger tuh, masa imunisasi simultan kena 1 1/2 biaya konsultasi? kasih bocoran dong itu di klinik mana? Dulu pernah ke klinik A*akku Gading, suntik 2 vaksin cuma kena 1x biaya konsultasi kog.. tapi itu 3 tahun lalu dan gw pilihnya dokter yg paling sepi, mungkin dokter baru. Akibatnya nyuntiknya ga jago dan clo1 berasa kesakitan banget ampe berhari-hari.. kapok deh ga pernah ke klinik itu lagi.

    Gw lumayan cocok sama dsa K*shore yang india itu karena ada praktek pagi di rumahnya jadi bisa kesana sebelum ngantor. Kalo ke H*rmina, tarif konsultasinya sekarang udah 210rb.. mungkin dsa A yg rame banget itu lebih mahal lagi.

    Reply
    • 8. luvly7  |  October 19, 2011 at 09:16

      Gue juga dulu pernah ke Kishore loh … cuman kurang berasa sreg🙂 hehehehhee

      Kalo gag salah, dulu dokter bertangan dingin itu praktek di klinik Anakku deh …

      Reply
  • 9. Mr. E  |  October 18, 2011 at 10:27

    miris gw bacanya.. dan keki.. haha..
    tapi ya gimana deh.. bisa ngapain kita digituin..

    btw, gw curious..
    si mbaknya jawab balik apa, Feb ?

    Reply
    • 10. luvly7  |  October 24, 2011 at 06:11

      Baru baca aja udah kekii ya Win … gimana yang kudu ngadepin + kudu bayar double :p gag salah yaa kalo gue kemaren ini sampe ilfil sendiri :p

      Reply
  • 11. Lili  |  October 19, 2011 at 01:24

    buset…komersial amat ya? anaknya yg sembuh, ortunya yg sakit nih kalo gini……sakit hati.

    dulu anak2 selalu ke DSA di Siloam sih, Feb. Jadi dokternya jg gak bs sembarangan netapin tarifx aturannya yah gak bisa neko2, dokter2nya ikut aturan hospital.

    sekarang….dah ke dokter umum. kalo kontrol cukup dgn 40 rb saja🙂 K

    Reply
    • 12. luvly7  |  October 24, 2011 at 06:13

      Yep, KOMERSIAL abis!!! Gue gag masalah, karena toh dibayarin sama asuransi. Tapi gue aneh aja Li, koq sampe segitunya mereka cari uang ya?? 😦 btw, dulu gue juga di siloam looh🙂 sebelom akhirnya pindah ke utara😀

      eh, anak2 tuh mulai umur berapa sih udah bisa dibawa ke dokter umum?

      Reply
  • 13. Flora  |  October 20, 2011 at 04:04

    Ternyata bukan gw doang merasa kl si dokter bertangan dingin itu amat sangat tidk komunikatif. Gw lebih prefer ke dr.S*siana ato dr. H*rijadi drpada milih sang pemilik.

    Reply
    • 14. luvly7  |  October 24, 2011 at 06:15

      Kayaknya gue pernah sekali deh dipegang dokter S*s*ana …. wkt si dokter utama lagi cuti🙂 udah pernah coba ke Luzsy blom? she’s ok koq Flo 🙂

      Yep, elu mommy ke sekian yang menyatakan kalo si dokter anu sekarang sudah berubah banyak🙂

      Reply
  • 15. clarity  |  October 10, 2012 at 09:32

    sempet nyoba dr eric gultom ato dr trully ga? mrk recomended jg loh cm aku ga tahan ramenya aja

    Reply
  • 16. Mama Erina  |  October 14, 2012 at 09:18

    Eeehhh… Gila tuh dokter mata duitan bener… Klo di jepang imunisasi mah gratis. Klo imunisasi yg tdk harus diikuti bayar tp ga mahal, cuma 1.500 yen (kira2 Rp 150.000).
    Biaya konsultasi ga dipungut. Tp klo kontrol dipungut tp ga mahal. Biasanya anak aku Erina chan klo kontrol di RS paling cuma bayar 400 yen. Klo diklinik pribadi dokter agak mahal dikit, sekali kontrol 1.250 yen ato sekitar Rp 125.000 — 150.000)
    Hmmm…. Duhhh klo ga punya penghasilan tinggi anak dilarang sakit donk ya…😦

    Reply
  • 17. lia  |  May 3, 2013 at 14:47

    Sy tahu dr siapa yg dimaksud, kebtln anak sy pake dr itu, n ternyata ga sembuh, diminta MRI, usg perut, endoscopi. Semgg sy bisa 3x k sana n diminta byr full 325rb. Dia tdk bisa menjelaskan anak sy sakit apa, sampai skrgpun anak sy tdk sembuh.
    Klinikny terlalu ekslusif, karyawanny terlalu byk, dr nya terlalu “giat” n “rajin” mencari uang. Dr luszy pun sy pernah coba, menrt sy orgnya judes n tdk ramah, saat anak sy sakit panas, bkn diobatin malah dg judesnya menjudge anak sy obesitas (wkt itu anak sy msh umur bbrp bl).
    Susah mencari dokter anak yg bener di indonesia ini. Anak sy sdh sbln ini tiap tdr muntah2, n muntahnya bkn makanan yg klr semua, tp cairan n saat mau muntah wajahny jd biru (krn dia tdk bernapas saat mau mengeluarkan muntahnya)
    Skrg sy bingung hrs k dr siapa lg.

    Reply
  • 18. Rudhi Wijanarko  |  March 4, 2015 at 02:26

    Saya tahu dr Luszy ini, beliau dokter yang teguh memegang etika. Tidak seperti dokter2 lain, tidak pernah terlihat di ruang prakteknya keluar masuk sales obat (detailer). Selain itu resep obatnya juga sangat terjangkau (resep flu dia cuma 80rb tanpa antibiotik, sedangkan dokter2 lain cuka ngasih obat antibiotik yang mahal2 — padahal malah gak manjur).
    Mungkin mis-understanding, atau admin kliniknya yang agak kacau, tetapi saya ragu dokternya yang bisa disalahkan.
    Dokter ini memang tidak suka ngobrol, tetapi jika ditanya, beliau akan gamblang menjelaskan/educate parents mengenai sakitnya. Selain itu beliau selalu meng-interview secara sistematis yang mengarah ke penyebab sakit si anak. Saya lihat banyak dokter lain yang ngobrol gak perlu tetapi malah alpa menelusuri penyebab sakitnya dengan interview ke parents (yang ada malah langsung bikin rekomendasi lab yang bejibun dan habis jutaan).
    Saya lihat meskipun belakangan pasien dokter ini banyak sekali, tetapi belakangan di RS Gading Pluit beliau memperketat sistem antriannya dengan memprioritaskan perjanjian by phone (kecuali kondisi darurat), sehingga yang disiplin akan tetap nyaman karena tahu dari awal harus datang jam berapa.
    Dan yang paling penting, dokter ini manjur buat anak-anak saya dan keponakan2 saya.

    Reply
  • 19. yuni  |  September 25, 2015 at 08:21

    Aku dari awal melahirkan di RSPI (RS puri indah pondok indah) di jakarta barat. padahal rumah ku di BSD Serpong Tangerang. Walau kesana makan waktu satu setengah jam sampe 2 jam (kalo macet) ya worth it lah. Dan harus tunggu lama juga masih worth it. Karena disana dokter kandungan Dr. Calvin Tjong lulusan German benar benar ahli dan profesional dan sopan. Berkat beliau, aku bisa hamil. Lalu dokter anak Cynthia juga bagus. beliau ramahhhh banget, baikkk banget, sopan juga. Walaupun 2 dokter itu antriannya panjanggggggg banget. Aku uda gonta ganti dokter kandungan 8x akhirnya cocok sama Dr Calvin. Terus karena melahirkan di RSPI jadinya kepasan dapet dr Cynthia yang baikkkk banget.

    Reply
  • 20. Yulinda  |  October 5, 2015 at 00:12

    Hi mom, kasus ini pernah saya alami jg dgn DSA yg “betangan dingin” itu. Waktu itu anak saya diare + ditawarkan sekalian imun yg memang mahal sekitar 1,8 jt sekali suntik. Begitu membayar di kasir kaget sekali, ternyata utk biaya konsultasi di charge 2x (padahal 1x visit lho) dan katanya sudah disc 50% utk jasa imun, alhasil yg kt bayarkan utk biaya jasa dokter saja 600 rb + imun 1,8 jt. Kapok deh ke DSA itu lagi, komersil.. Emang sih kt bisa reimburse kantor, tp bayangkan yg gak bisa😦

    Reply
  • 21. Clare  |  December 2, 2016 at 10:19

    Hai salam kenal ya

    Mmg siapa mom nama dokternya yg ngecharge 2x itu ?

    Reply
  • 22. Clare  |  December 2, 2016 at 10:21

    Aku baru di dunia dokter anak soalnya my son masih baby neh

    Info” dunk 😊
    Mmg dokter yg bertangan dinginnya itu refer to siapa sehh ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Luvly7 ….

Cewek Keren Sedunia is her middle name ... Love travelling ,make friends, watch movie and sleep! Really wanna be slim without stop eating :) Be a famous TV presenter & MC is one of her biggest dream, and hopefully she still can reach it !!! You go girl !!

Oldies

Visitors

  • 414,087 clicks

RSS Blogger’s update

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Recent Posts


%d bloggers like this: